Proyek Tanggul Sungai Ongkag Terancam Bergulir ke Kejaksaan


Manado, MX
Aroma kejanggalan pembangunan talud penahan banjir Sungai Ongkag, Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) berhembus. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut) mencium adanya pekerjaan yang kurang beres terkait infrastruktur tersebut. Proyek itu kans digiring anggota dewan Julius Jems Tuuk ke Kejaksaan. 
 
Problem tersebut mencuat tatkala Komisi III DPRD Sulut, Senin (25/7), melakukan rapat dengar pendapat (RDP) dengan Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) 1.
 
Rapat dipimpin Ketua Komisi Berty Kapoyos dan Sekretaris Amir Liputo. Turut hadir bersama saat itu, legislator daerah pemilihan Bolmong Raya, Julius Jems Tuuk yang kini duduk di Komisi II DPRD Sulut. Pembahasan terkait dengan proyek pembangunan tanggul penahan banjir Sungai Ongkag Dumoga yang telah jebol.
 
Ketika itu anggota dewan Julius Jems Tuuk memberikan respons terkait dengan pernyataan BWSS 1. Dirinya mengungkapkan, sangat tersakiti mendengar kalimat Kepala Balai (Kabalai) Sungai, I Komang Sudana, karena menyampaikan baru 8 bulan menjabat Kabalai Sungai. "Saya menerjemahkan bahasa anda melakukan cuci tangan terhadap kasus-kasus ini. Sebetulnya yang saya harapkan dari mulut kabalai mengatakan, saya yang bertanggung jawab terhadap kasus ini. Itu baru namanya leader," tegasnya.
 
Sebelum masalah ini terjadi, menurut Tuuk, dirinya sempat menelepon pihak BWSS untuk mengingatkan kondisi pengerjaan proyek tersebut. Ia menelepon sahabatnya yang ada di Balai Sungai namun justru tidak diangkat. "Saya telepon tidak diangkat. Mungkin dia pikir saya mau minta proyek. Demi Tuhan, Pak Kabalai, sampai detik ini Jems Tuuk tidak pernah menikmati satu butir pasir pun proyek sejak berada di DPRD Sulut," tegasnya. 
 
Lanjutnya, dikatakan BWSS juga bahwa hujan terlalu besar yang menyebabkan volume air meningkat sehingga talud penahan air roboh. Padahal menurutnya, hujan itu belum banjir besar di Dumoga. Baginya, proyek yang dikerjakan ini justru yang asal-asalan. 
 
"Ini proyek yang dikerjakan asal-asalan. Saya berpendapat mungkin ini karena kami orang Dumoga. Ah, orang Dumoga kwa, biar jo dorang mampos di sana torang nda pusing. Bagaimana saya tidak mau komplain sementara pekerjaan saja saya mau berikan masukkan sebenarnya, ingin mengingatkan tapi tidak diangkat. Tapi bahasa ini Pak, bukan cuma saya. Bahasa ini bisa tanya kapolsek (kepala polisi sektor), saya bisa tanya ke pendeta-pendeta kalau Pak Ketua mau (Ketua Komisi III, red). Kita bisa ketemu mereka. Jadi kita berkesimpulan biarkan saja, dia kalau banjir besar dia langsung roboh kwa ini," tegasnya.
 
Dirinya setuju dengan pertanyaan anggota dewan Ayub Ali terkait apakah tidak dipikirkan sebelumnya untuk membuat drainase. Padahal ini adalah proyek yang besar. Seharusnya ada dalam perencanaan. "Dikatakan tadi kami belum punya proyek membuat drainase. Coba bayangkan suatu pekerjaan besar di pinggir sungai dan bahasa anda mengatakan kami tidak merancang pekerjaan saluran air, otakmu di mana. Saya tidak bisa terima pernyataan ini. Bagaimana mengerjakan ini dan tidak memikirkan air ini mau dibuang di mana," semburnya lagi. 
 
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini menegaskan, mewakili masyarakat dirinya sudah membuat draf ke Kejaksaan Agung (Kejagung) serta akan gugat Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Tuuk juga menyatakan, jikalau insinyur yang bangun proyek ini adalah benar, harusnya masalah tersebut tak terjadi. 
 
“Sebab harus dihitung volume air yang terbuang berapa banyak. Tapi ini hanya asal buat. Sehingga saya ambil kesimpulan apakah di Sulut insinyurnya goblok-goblok atau proyek ini terlalu banyak korupsinya. Saya juga tak bisa jawab dua pertanyaan ini,” tegasnya.
 
Dia juga menjelaskan, argumen yang ditangkapnya bahwa air yang dari saluran adalah penyebab robohnya tanggul karena volume air terlalu besar. 
 
“Apakah pernah dihitung jumlah debit air per detik yang masuk. Apakah masuk akal saluran hanya kecil seperti itu yang dibuat. Makanya saya katakan proyek ini dikerjakan asal-asalan,” tegasnya. (Eka Egeten)
 



Sponsors

Sponsors